Sabtu, 15 Juni 2013

Januari 2011




Aku kembali duduk di tempat ini. Terdiam diantara rak-rak buku tersusun rapi. Aku memilih duduk di bawah, mendekap lutut. Tempat ini masih sepi, hening. Terlihat beberapa orang berusaha mencari-cari buku yang mereka butuhkan. Aku menghela napas panjang, masih terasa berat. Kenangan tercetak jelas dalam pikiran. Menyublim bersama bulir kerinduan yang setia bersamaku sejak kita bertemu di tempat ini hingga kepergianmu




 

Untukmu, rindu ini bisa sedemikian kejamnya. Aku sering kali terjatuh, tersungkur karenanya. Kenangan masa silam tak jarang menyertai, ketiadaanmu merapuhkanku. Aku masih membutuhkanmu, aku masih menginginkan kita, kebersamaan kita. Kepergianmu adalah skenario paling menyesakkan.
Aku beranjak dari sini, meyusuri jalan yang dulu sering kita lalui. Tibalah aku di depan gerbang sebuah bangunan yang mereka sebut kantor pemerintahan daerah. Dengan napas yang sesekali aku tahan, aku memasuki halamannya. Mencari sebuah bangku yang dulu pernah menjadi tempat istimewa kita. Samar-samar aku seperti melihat kita di bangku itu. Air di pelupuk mata terasa semakin berat, kemudian jatuh menganak sungai. Kuseka air mataku perlahan sambil mencaci diri dalam hati akan penyeselan-penyesalan. 

Aku kehilanganmu, kasih. Aku kehilanganmu atas kebodohanku
Namun aku hanya ingin kebahagianmu. Pergilah jika memang ini yang kau mau, bebas menggapai cita dan cintamu tanpa aku..tanpa kita. Dalam hati kecilku, aku ingin sesekali kamu menoleh. Walaupun hanya sekedar ingin tahu bagaimana keadaanku tanpamu
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar