Aku kembali duduk di tempat ini. Terdiam diantara rak-rak
buku tersusun rapi. Aku memilih duduk di bawah, mendekap lutut. Tempat ini
masih sepi, hening. Terlihat beberapa orang berusaha mencari-cari buku yang
mereka butuhkan. Aku menghela napas panjang, masih terasa berat. Kenangan
tercetak jelas dalam pikiran. Menyublim bersama bulir kerinduan yang setia bersamaku
sejak kita bertemu di tempat ini hingga kepergianmu
Untukmu, rindu ini bisa sedemikian kejamnya. Aku sering kali terjatuh, tersungkur karenanya. Kenangan masa silam tak jarang menyertai, ketiadaanmu merapuhkanku. Aku masih membutuhkanmu, aku masih menginginkan kita, kebersamaan kita. Kepergianmu adalah skenario paling menyesakkan.
Aku beranjak dari sini, meyusuri jalan yang dulu sering kita
lalui. Tibalah aku di depan gerbang sebuah bangunan yang mereka sebut kantor
pemerintahan daerah. Dengan napas yang sesekali aku tahan, aku memasuki halamannya.
Mencari sebuah bangku yang dulu pernah menjadi tempat istimewa kita.
Samar-samar aku seperti melihat kita di bangku itu. Air di pelupuk mata terasa
semakin berat, kemudian jatuh menganak sungai. Kuseka air mataku perlahan
sambil mencaci diri dalam hati akan penyeselan-penyesalan.
Aku kehilanganmu, kasih. Aku kehilanganmu atas kebodohankuNamun aku hanya ingin kebahagianmu. Pergilah jika memang ini yang kau mau, bebas menggapai cita dan cintamu tanpa aku..tanpa kita. Dalam hati kecilku, aku ingin sesekali kamu menoleh. Walaupun hanya sekedar ingin tahu bagaimana keadaanku tanpamu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar