Rabu, 05 Juni 2013

Message Facebook



Terdiam aku di depan sebuah monitor. Mulai sibuk melakukan rutinitas dengan sekumpuan-sekumpulan aksara beraroma sains. Jenuh. Penat. Kembali aku merasakan sesak. Disela-sela pesakitan ini aku sendiri. Bukan karena sepi sendiri, tapi aku selalu merasa ada yang kurang tanpa kehadiranmu disini. Berulang aku tengok ke layar smartphone, ah mustahil pikirku. Lelaki yang hingga kini masih ku rindukan mustahil menghubungiku, mengkhawatirkan keadaanku seperti dulu

.....
Aku beranikan mengetik namamu, kemudian enter. Dengan menyebut nama-Nya aku berusaha menanyakan kabarmu, memulai perbincangan kita. Aku hampir gila menunggu lamanya kau membuka dan membalas pesan singkat melalui social media itu. Nyaliku menciut, menduga-duga kau tak akan menanggapi pesanku. Dugaanku salah. Aku sempat sumringah, tersenyum seakan merasakan kembali indahnya virus merah jambu. Walaupun sesekali aku menahan sesak, menyadari bahwa kau lebih dingin. Hampir-hampir aku ingin menyudahi percakapan maya kala itu. Tapi sayang, aku sangat merindukanmu. Gaya bahasamu, pemikiran-pemikiran serius dan bijakmu. Di akhir percakapan itu, dinginmu mendiamkanku. Aku bagai sosok yang mengganggu, kedatanganku tak pernah diharapkanmu


Aku hanya merindukanmu, aku hanya ingin bertukar cerita denganmu. Walaupun aku sadar, semua tak sebebas dulu. 

Hai.. bagaimana kabarmu ? 
Sibuk apa sekarang ? 
Bagaimana kabar keluargamu ?
Masih adakah orang di sekitarmu yang sering mencuri pandang keindahanmu selain aku ?

Ah..sekedar itu


Aku hanya ingin mengaminkan segala doamu. Bahkan hingga kini aku pun tak pernah alpha menyelipkan namamu, niat dan cita-cita kita dulu dalam setiap sujud khusyuk sepertiga malamku. Aku ingin kau menceritakan segala keluh kesahmu, kemudian kau juga mendengarkan segala keluh kesahku. Waktu-waktu yang aku lewati sendiri tanpamu. Tapi dinginmu cukup membuatku memahami, aku harus undur diri
Ah sudahlah..bahagiamu memang tanpa aku, tanpa kita. Mungkin aku harus lebih berusaha tak perlu khawatir menanyakan kabarmu. Biarlah dia, mereka dan dirimu sendiri yang memperhatikanmu. Satu pesan terakhirku, seperti apa yang sering kau sampaikan padaku dulu, “jaga kesehatanmu sebaik-baiknya ya”





Maafkan aku.. dulu aku merasa ada jarak yang mengikis rasa percayaku padamu. Sejak kau ceritakan suatu kejujuran menyakitkanku. Maafkan aku yang pernah mencurigaimu, bukan tak pernah percaya atau menganggapmu sebagai seorang  penjahat yang tak bisa taubat. Aku hanya termakan oleh kebodohan, ketakutan akan kehilangan dan ketidaktahuanku. Maafkan aku, kasih. 


Peluk hangat, dari aku sang insecure yang cemburu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar