Terdiam aku di depan sebuah monitor. Mulai sibuk melakukan
rutinitas dengan sekumpuan-sekumpulan aksara beraroma sains. Jenuh. Penat.
Kembali aku merasakan sesak. Disela-sela pesakitan ini aku sendiri. Bukan
karena sepi sendiri, tapi aku selalu merasa ada yang kurang tanpa kehadiranmu
disini. Berulang aku tengok ke layar smartphone, ah mustahil pikirku. Lelaki
yang hingga kini masih ku rindukan mustahil menghubungiku, mengkhawatirkan
keadaanku seperti dulu
.....
Aku beranikan mengetik namamu, kemudian enter. Dengan
menyebut nama-Nya aku berusaha menanyakan kabarmu, memulai perbincangan kita.
Aku hampir gila menunggu lamanya kau membuka dan membalas pesan singkat melalui
social media itu. Nyaliku menciut, menduga-duga kau tak akan menanggapi
pesanku. Dugaanku salah. Aku sempat
sumringah, tersenyum seakan merasakan kembali indahnya virus merah jambu. Walaupun
sesekali aku menahan sesak, menyadari bahwa kau lebih dingin.
Hampir-hampir aku ingin menyudahi percakapan maya kala itu. Tapi sayang, aku
sangat merindukanmu. Gaya bahasamu, pemikiran-pemikiran serius dan bijakmu. Di
akhir percakapan itu, dinginmu mendiamkanku. Aku bagai sosok yang mengganggu,
kedatanganku tak pernah diharapkanmu
Aku hanya merindukanmu, aku hanya ingin bertukar cerita
denganmu. Walaupun aku sadar, semua tak sebebas dulu.
Hai.. bagaimana kabarmu ?Sibuk apa sekarang ?Bagaimana kabar keluargamu ?Masih adakah orang di sekitarmu yang sering mencuri pandang keindahanmu selain aku ?
Ah..sekedar itu
Aku hanya ingin mengaminkan segala doamu. Bahkan hingga kini
aku pun tak pernah alpha menyelipkan namamu, niat dan cita-cita kita dulu dalam
setiap sujud khusyuk sepertiga malamku. Aku ingin kau menceritakan segala keluh
kesahmu, kemudian kau juga mendengarkan segala keluh kesahku. Waktu-waktu yang
aku lewati sendiri tanpamu. Tapi dinginmu cukup membuatku memahami, aku harus undur diri
Ah sudahlah..bahagiamu memang tanpa aku, tanpa kita. Mungkin
aku harus lebih berusaha tak perlu khawatir menanyakan kabarmu. Biarlah dia,
mereka dan dirimu sendiri yang memperhatikanmu. Satu pesan terakhirku, seperti
apa yang sering kau sampaikan padaku dulu, “jaga kesehatanmu sebaik-baiknya ya”
Maafkan aku.. dulu aku merasa ada jarak yang mengikis rasa
percayaku padamu. Sejak kau ceritakan suatu kejujuran menyakitkanku. Maafkan
aku yang pernah mencurigaimu, bukan tak pernah percaya atau menganggapmu
sebagai seorang penjahat yang tak bisa taubat. Aku hanya termakan oleh
kebodohan, ketakutan akan kehilangan dan ketidaktahuanku. Maafkan aku, kasih.
Peluk hangat, dari aku sang insecure yang cemburu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar